2001: A Space Odyssey

October 28, 2005

Verifikasi Kasus Arogansi Petugas Konvoi HTML

Filed under: OPINI & BERITA

Sesuai judul diatas.. verifikasi yg beredar diberbagai milis otomotif

========================================
HTML Safety Riding Team (HSRT)
Laporan Verifikasi Kasus Arogansi Petugas Konvoi HTML
di Jl. Warung Buncit Raya, Jakarta Selatan
Minggu, 2 Oktober 2005, pukul 10:00 WIB.

Data kejadian terangkum:
Hari/Tanggal: 2 Oktober 2005
Waktu: 10:00 WIB
PIC: Pringgondani Kusdono (HTML 151)
Tempat: Jl. Warung Buncit Raya (sesudah Paparonz Pizza)
Kondisi Lalu Lintas: Ramai lancar
Pelaku: Wahyu Haryanto (HTML 363)
Group Riding: Konvoi HTML
Anggota Konvoi: 30 – 40 motor Honda Tiger anggota HTML

Susunan Petugas Konvoi
Group Leader: Tak ada penunjukan Group Leader atau Road Captain Safety Officer (SO): Bagus Sugiantoro (HTML 324) dan Ferdinand (HTML 842) Voorijder (VJ): Satya Budi (HTML 544) Sweeper Belakang: Achmad Handry Y. alias ‘Chemonk’ (HTML 624), Wahyu Haryanto (HTML 363) dan Raymond Inkai (HTML 605)

Saksi-saksi
Saksi 1: Chemonk (petugas konvoi sweeper belakang)
Saksi 2: Deden (rekan DeTiC yang membantu mengamankan TKP, HTML 277) Saksi 3: Rifaldo (petugas konvoi susulan, HTML 345) Saksi 4: Rino Permadi (peserta konvoi paling belakang, HTML 353)

Pendahuluan
Hasil investigasi ini hanya bersandar pada keterangan para saksi dari pengguna sepeda motor, karena HSRT tidak bisa menghubungi pengemudi mobil. Investigasi ini bisa dikatakan tidak akurat sepenuhnya, terutama pada detik-detik terjadinya kecelakaan. Walau begitu HSRT berusaha memberikan fakta seobyektif mungkin.

Kronologis Kejadian
Saat itu rombongan HTML yang terdiri dari 40-an motor berangkat menuju ke TMII dari Rumah Makan Tenda Asri di Jl. Sabang untuk menghadiri acara Bikers Day. Konvoi yang menempuh rute Kuningan – Mampang tersebut sempat terputus di lampu merah Duren Tiga. Faldo yang waktu itu menyusul rombongan berinisiatif untuk mengambil alih rombongan yang terputus, menjadi VJ agar rombongan tidak serabutan saat mengejar rekan-rekannya di depan. Saat itu konvoi berjumlah sekitar 20-an motor dengan petugas Faldo sebagai VJ, Chemonk, Wahyu, dan Raymond sebagai sweeper.

Tiba di daerah Mampang, jalur turunan menjelang Republika setelah tikungan Paparonz Pizza. Konvoi yang saat itu melaju di jalur cepat, mengambil posisi di ruas tengah untuk mendahului kendaraan lain di ruas kiri jalan. Arus lalu lintas saat itu ramai lancar.

Saat konvoi bergerak ke jalur tengah tersebut, Chemonk (sweeper belakang konvoi) mencoba untuk menahan laju sebuah mobil BMW merah yang berusaha mendahului konvoi dari sisi paling kanan. Akan tetapi mobil tersebut tidak mau mengalah, dan malah cenderung berkendara secara agresif, seolah-olah ingin menyerempet Chemonk. Untung Chemonk dengan cepat berinisiatif untuk menghindari senggolan dengan mobil tersebut.

Saat itu Wahyu Brimob, yang posisinya berada di paling belakang barisan, melakukan manuver mengambil alih tugas Chemonk. Dia mendahului BMW dan memposisikan motor tepat beberapa meter di depan mobil tersebut dan melakukan pengereman dengan engine brake.

Menurut keterangan Bro Rino, posisi Wahyu yang memblok mobil tersebut sebenarnya tidak perlu. Pasalnya Rino peserta konvoi terakhir telah berhasil melewati mobil tersebut dengan selamat. Rino sempat mendengar suara benturan dan gesekan besi dengan aspal saat motor Bro Wahyu tertabrak mobil BMW tersebut.

Sementara Wahyu menuturkan, Chemonk yang berusaha meminta jalan kepada mobil tersebut tidak berhasil. Malah dia nyaris diserempet. Wahyu berinisiatif untuk membantu. Dia bermanuver memotong jalur mobil tersebut dan melepas gas untuk melakukan engine brake saat melaju di kecepatan 60 kilometer per jam.

Saat itulah mobil BMW Merah seri 520 yang terlambat mengantisipasi manuver menabrak spakbor belakang Wahyu sehingga menyangkut di bemper depan mobil. Wahyu mencoba melepaskan motornya agar tidak jatuh tapi tak berhasil. Walhasil motor pun jatuh dan nyaris terlindas mobil tersebut. Beruntung Wahyu selamat walaupun beroleh beberapa luka lecet.

Bersamaan dengan itu, pengendara motor lain di sisi kiri dan belakang mobil yang kaget dengan kecelakaan tersebut melakukan panic breaking, sehingga terjadi kecelakaan beruntun. Menurut versi Wahyu, kecelakaan pengendara motor lain terjadi karena motor Wahyu terlempar ke ruas kiri jalan sehingga menghalangi pengendara motor lainnya.

Sedangkan dalam pengamatan Rino selaku peserta paling akhir yang sempat melihat melalui spion, kecelakaan pengendara motor lainnya yang melibatkan sekitar 10-an motor berjatuhan disebabkan karena pengendara-pengendara tersebut panik karena manuver mobil yang mengerem mendadak. Sedangkan posisi motor Wahyu jatuh di ruas kanan jalan tepat di depan mobil. Jadi para pengendara motor tadi jatuh karena panic breaking, bukan karena menabrak motor Wahyu.

Rino saat itu langsung berhenti dan berbalik arah untuk melihat kondisi Wahyu. Bro Deden (DeTiC) yang kebetulan sedang ada acara di sekitar lokasi (Kantor PAN) juga segera keluar untuk menolong. Chemonk langsung mengejar Faldo untuk memberitahu bahwa salah satu anggota konvoi mengalami kecelakaan. Faldo pun berputar arah untuk kembali ke lokasi kejadian.

Setelah kejadian, pengendara mobil (Pak Irawan) keluar dan sempat berbicara dengan Rino, Deden, dan Wahyu. Rino menjelaskan bahwa kami sedang konvoi dan mohon meminta jalan secara baik-baik untuk masuk ke jalur mobil, untuk mendahului kendaraan di jalur kiri.

Dari sejak lampu merah di Mampang (dekat kantor Mitsubishi), rekan-rekan HTML paling belakang (Rino, Chemonk, Wahyu) memang sudah melihat mobil BMW merah tersebut. Si Pengendara memang melajukan mobilnya dengan agresif bahkan beberapa kali berkesan ingin menyerempet rombongan konvoi. Mungkin beliau sedang terburu-buru dan agak kesal karena perjalanannya terganggu. Pernyataan ini juga didukung oleh pengendara motor yang terjatuh saat itu. Beberapa pengendara motor menyalahkan si pengendara mobil yang arogan dan ugal-ugalan, bukan menyalahkan Wahyu dan meminta ganti langsung kepada Pak Irawan.

Deden yang tiba di TKP langsung meminggirkan motor Wahyu dan juga meminta pengendara mobil untuk meminggirkan kendaraannya. Saat itu massa mulai berkerumun dan beberapa pengendara motor lain yang terjatuh memaksa si pengendara mobil untuk membayar ganti rugi biaya pengobatan. Deden berinisiatif untuk mengamankan agar tidak terjadi tindak kekerasan.

Menurut Rino, si pengendara mobil hanya memberikan uang Rp 50.000 kepada salah seorang pengendara motor yang terjatuh. Dan Pak Irawan bersikeras bahwa kejadian tersebut merupakan kesalahan Wahyu.

Untuk mengindari amuk massa dan membuat kondisi berlarut, Deden menyarankan agar masalah segera diselesaikan. Wahyu waktu itu mengajukan tuntutan Rp 500.000 sebagai uang ganti rugi. Akhirnya Pak Irawan sepakat untuk menyelesaikan urusan ini di rumah beliau. Untuk itu beliau bertukaran nomor telepon selular dengan Wahyu dan memberikan KTP-nya sebagai jaminan kepada Wahyu.

Akhirnya Wahyu, Rino, dan Faldo melanjutkan perjalanan, sementara Deden kembali ke tempat pekerjaannya. Pengendara motor lainnya juga segera meninggalkan TKP dan massa yang berkerumun pun segera bubar.

Dua jam berselang Wahyu mencoba menghubungi HP Pak Irawan untuk menanyakan penyelesaian kasus tersebut. Beberapa kali Wahyu mencoba menghubungi beliau sampai dengan Rabu, 19 Oktober 2005, tapi HP-nya tetap tidak aktif. Walaupun, sudah dicoba dihubungi berkali-kali dengan berbagai nomor.

Akhirnya pada Minggu, 2 Oktober 2005, Wahyu didampingi Deden dan beberapa anggota DeTiC mendatangi kediaman Pak Irawan di Depok, sesuai alamat di KTP. Akan tetapi alamat kediaman yang tertera di KTP ternyata rumah kosong yang sudah dijual tertanggal 23 September 2005 yang lalu. Menurut petugas keamanan setempat, sang empunya rumah sudah lama pindah.

Pada Sabtu, 22 Oktober 2005, tertulis sebuah surat pembaca di Surat Kabar Harian Kompas atas nama istri Irawan, yang beralamatkan sama dengan KTP yang dimiliki oleh Wahyu, berisikan sebagai berikut:

========= baca posting sebelumnya ============
KOMPAS, SABTU 22 OKTOBER 2005
REDAKSI YTH:
Arogansi Konvoi Klub Motor
Pada hari Minggu, bla.. bla.. bla..

================= end ====================

Kesimpulan HSRT

Kecelakaan tersebut terjadi karena beberapa faktor.

1. Faktor Internal. HSRT mengakui ada pelanggaran atas prosedur touring resmi HTML, antara lain:

a. Rombongan beranggotakan lebih dari 15 motor dalam satu group konvoi bersamaan. Sehingga konvoi terlalu panjang dan berpotensi mengganggu pengguna jalan lainnya.

b. Rombongan melanggar peraturan lalu lintas dengan melintas di jalur cepat di Jl. Buncit Raya. Sementara seharusnya, memang motor harus melintas di jalur lambat. Untuk itu HSRT akan melakukan verifikasi dan peringatan kepada petugas Voorijder dan SO konvoi tersebut.

c. Kesalahan prosedur untuk etika dan tata cara meminta jalan kepada pengguna jalan lain oleh seorang petugas konvoi HTML. Petugas Konvoi (sdr. Wahyu) dinilai emosional dan arogan dengan meladeni aksi agresif pengendara mobil BMW. Padahal posisi beliau saat itu adalah sweeper belakang.
Catatan: Aksi manuver memblok mobil seharusnya tidak perlu dilakukan karena seluruh peserta konvoi sudah melaju dengan aman mendahului mobil tersebut. Aksi sdr. Wahyu dinilai terlalu berlebihan dan mengundang bahaya. Menurut UU Lalu Lintas, manuver sdr. Wahyu merupakan pelanggaran karena berpotensi mencelakai dirinya sendiri dan orang lain.

2. Faktor Eksternal. Selain kesalahan prosedural konvoi dan kepetugasan, HSRT juga mempertimbangkan kondisi lingkungan, lalu lintas, dan pengguna jalan lain yang berpotensi menyebabkan kecelakaan, antara lain:

a. Kondisi jalur lambat di Jl. Mampang – Buncit Raya seringkali tidak layak untuk dilalui dengan aman dan nyaman. Kepadatan lalu lintas, bus-bus yang suka berhenti seenaknya, mobil-mobil yang parkir sembarangan, dan pejalan kaki yang suka melintas di jalan karena trotoar dihuni oleh pedagang kaki lima, menimbulkan potensi bahaya yang tinggi bagi motor untuk melintas di jalur lambat. Sehingga mayoritas pengendara motor memilih untuk melintas di jalur cepat di sepanjang Jl. Raya Mampang – Buncit.

b. Faktor pengendara lain (Pengendara mobil BMW Merah, Pak Irmawan) yang mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan. Anggota konvoi menyayangkan aksi manuver beliau seolah-olah beberapa kali akan memepet peserta konvoi saat melintas di sampingnya. Manuver ini dinilai membahayakan peserta konvoi dan pengguna jalan lainnya dan juga memancing anggota konvoi untuk bereaksi negatif atas manuver yang dilakukan.

Kami memahami kemungkinan beliau sedang terburu-buru dan merasa terganggu karena jalannya terpotong oleh rombongan konvoi. Akan tetapi kami sungguh menyayangkan aksi manuver beliau yang berpotensi membahayakan keselamatan banyak pengguna jalan lain.

3. Kecelakaan tersebut terjadi karena kesalahan kedua belah pihak. Pihak pertama rombongan konvoi HTML, sebagaimana dijelaskan pada poin 1 di atas dan juga pengendara mobil, sebagaimana dijelaskan pada poin 2b di atas.

Pihak pertama, khususnya sdr. Wahyu jelas menyalahi aturan petugas touring HTML dengan bertindak arogan dan melakukan manuver yang membahayakan. Melakukan pengereman mendadak di depan kendaraan yang sedang melaju (BMW merah) sehingga menimbulkan tabrak belakang merupakan tindakan yang salah, apapun tujuannya.

Pihak kedua, HSRT juga menilai pengendara mobil yang bertindak agresif dan melakukan manuver berbahaya dan seperti sengaja membahayakan peserta konvoi. Sang pengendara kemungkinan juga tidak bersungguh-sungguh melakukan pengereman untuk menghindari kecelakaan, sehingga memiliki andil atas kecelakaan yang terjadi.

Atas kesimpulan tersebut di atas, HSRT merekomendasikan beberapa hal tersebut di bawah ini:

1. BOS HTML selaku entitas tertinggi komunitas HTML memberikan sanksi terhadap petugas konvoi tersebut sesuai dengan kesalahan dan prosedur yang berlaku.

2. Untuk menjaga nama baik komunitas HTML, BOS sebagai wakil HTML segera membalas surat yang sdr. Irmawan di SKH Kompas dengan klarifikasi dari HTML yang menyebutkan bahwa HTML saat itu memang bersalah dan memohon maaf kepada beliau serta pengguna jalan lain yang merasa dirugikan.

HTML akan menyelesaikan masalah ini secara musyawarah dan kekeluargaan. Selain itu, dari pihak HTML telah berupaya untuk menyelesaikan masalah tersebut kepada Bapak Irmawan, menjelaskan bahwa HTML tengah berupaya membangun kesadaran berkendara pengendara motor dengan kampanye safety riding dan tertib lalu lintas.

Termasuk di antaranya menegaskan bahwa HTML akan memberikan sanksi kepada anggota HTML yang bersalah dalam hal ini, dan terakhir mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengembangkan kesadaran berlalu lintas, khususnya pengendara motor.

3. HSRT menyayangkan kesan seolah-olah Pak Irmawan berusaha menghindar dari penyelesaian dan tidak menunjukan itikad baik dengan tidak mengaktifkan telepon dan memberikan KTP yang beralamat palsu. Apalagi kemudian dengan semena-mena menulis di surat pembaca SKH Kompas, sehingga menimbulkan kesan bahwa komunitas motor arogan serta dinilai mengancam keselamatan mereka tanpa melakukan verifikasi lebih lanjut. Padahal menurut keterangan saksi mata di lapangan, justru agresivitas pengendara mobil dan arogansi dimulai terlebih dahulu oleh mereka.

4. HSRT akan berusaha lebih keras untuk mensosialisasikan prosedur touring dan menanamkan kesadaran safety riding serta tertib lalu lintas kepada anggota HTML, khususnya kepada petugas-petugas touring.

Jakarta, 26 Oktober 2005,
Team Verifikasi HSRT

Test Octane Booster

Filed under: TIPS & MODIFIKASI

BISA BIKIN MESIN ENGGAK NGELITIK?

Campuran disesuaikan rekomendasi produsen, waktu pengapian bisa dilihat di laptop dan disetel lewat potensiometer .

Octane booster jadi produk paling dicari saat ini paska kenaikan harga bensin. Apalagi kalau bukan buat campuran Premium menggantikan Pertamax dan Pertamax Plus biar lebih hemat. “Penjualan naik hingga 100 persen, bahkan sempat kehabisan stok,” sebut Melanus Conterius,
MBA, marketing manager PT Laris Chandra, distributor STP dan Prestone. Tetapi apa benar dengan mengganti Pertamax dan Pertamax Plus dengan racikan Premium ‘Plus’ ini bisa bikin mesin enggak ngelitik?

OTOMOTIF melakukan tes sederhana pada 5 produk yang paling laris di pasaran Jakarta (berdasar survei kecil-kecilan redaksi di bengkel/toko), yaitu STP (harga Rp 27.500), Wynn’s (harga Rp 35.000), Bardahl (harga Rp 27.500), Prestone (harga Rp 60.000) dan Pennzoil (harga Rp 35.000). Rata-rata dalam satu kemasan bisa dicampur dengan 60 liter bahan bakar. Juga mengklaim sanggup menaikan oktan bensin 1 sampai 10 poin atau unit. Selain itu juga bisa menghilangkan knocking dan membersihkan saluran bahan bakar. Perlu diperhatikan, istilah poin atau unit ini tidak sama dengan 1 RON, tetapi 1 poin atau unit sama dengan 0,1 RON. “Jadi kalau ada tulisan pada kemasan yang mengatakan bisa menaikkan oktan hingga 5 unit artinya sama dengan 0,5 RON, bukan 5 RON,” ujar Melanus.

METODE TES
Bukan nilai RON yang diukur karena harus memakai alat khusus (variable compression engine dengan reference fuel), melainkan melihat apakah Premium yang dicampur octane booster dapat menggantikan Pertamax Plus di mesin berasio kompresi tinggi. Indikator yang dipakai ada dua, yaitu waktu pengapian dan gejala ngelitik. Media tes digunakan mobil bermesin Mitsubishi 4G63 (dipakai di Eterna GTi) dengan rasio kompresi 9,8:1 yang direkomendasi oleh pabrikan memakai Pertamax Plus (RON 94).

Pengukuran dan penyetelan waktu pengapian memanfaatkan software piggyback ECU Dastek Unichip yang mampu menampilkan waktu pengapian secara real time di monitor laptop. Cukup geser potensiometer, waktu pengapian bisa dimaju-mundurkan. Sedangkan gejala ngelitik dideteksi pakai HKS Knocking Monitor. Roller pada dynamometer Dastek dipakai sebagai simulasi tes jalan. Setelah melalui beberapa kali percobaan awal, diputuskan mematok tes gejala ngelitik di sekitar 4.500 rpm (tes jalan posisi gigi tiga). “Di sinilah gejala ngelitik yang paling banyak terasa,” terang M. Soleh Yusuf, bos bengkel Sigma Speed, distributor Dastek
Unichip yang mendengarkan gejala ngelitik melalui headphone. Referensi (acuan) tes adalah waktu pengapian maksimal memakai Pertamax Plus. Waktu pengapian disetel semaju mungkin namun dihindari jangan sampai ngelitik dan didapat tenaga maksimum.

Hasilnya, memakai Pertamax Plus, waktu pengapiannya 15,1 sebelum TMA (titik mati atas). “Kalau dimajukan lagi, tenaga justru turun.” Artinya, di sinilah waktu pengapian yang paling tepat buat mesin. Biar memudahkan penggantian 5 campuran Premium + octane booster, dipakai tangki kecil diluar tangki standar (bawaan) mobil yang sudah dilengkapi fuel pump elektris. Komposisi campuran disesuaikan dengan rekomendasi yang tertera di label kemasan tiap produk yang dites. Tiap produk dirunning di mesin hingga sekitar 4.500 rpm 3-4 kali
untuk memastikan hasilnya.Produk yang dites diambil langsung dari pasar dan bukan disediakan oleh produsen. Sedangkan bahan bakar yang dipakai dibeli pada SPBU No. 34-11508 di Jln. Kelapa Dua Raya No. 15, Kebon Jeruk, Jakbar. Kondisi ini dipakai untuk mengurangi perbedaan kualitas bensin dari SPBU yang berbeda.

HASIL TES
Tes pertama memakai Premium tanpa campuran octane booster. Ternyata waktu pengapian harus mundur 0,5 derajat (14,6 derajat sebelum TMA) dari Pertamax Plus agar didapat tenaga maksimum dan tidak ngelitik. Sesudah itu baru dilakukan pengetesan di tiap racikan. STP mendapat giliran pertama. Pada kemasan tertulis isi 354 ml untuk 60 liter bahan bakar. Setelah dihitung ulang dengan menggunakan tabung ukur, ternyata isinya tepat 354 ml. Begitu mesin dijalankan, hasil maksimal waktu pengapian naik 0,7 derajat dibanding pakai Pertamax Plus (menjadi 15,8 derajat sebelum TMA). Selanjutnya Wynn’s. Di kemasan tertulis 350 ml untuk 60 liter bensin, tetapi setelah diukur ulang ternyata jumlahnya 370 ml. Hasilnya, lebih maju 1,2 derajat dibanding Pertamax Plus alias 16,3 derajat sebelum TMA. Bardahl, yang di kemasan tertulis volumenya 250 ml, ternyata lebih 20 ml. Waktu pengapian berhasil dimajukan hingga 3,2 derajat dibanding Pertamax Plus. Meski tenaga tidak naik, digeser sampai 5 derajat (15 derajat sebelum TMA) pun tetap tidak knocking. Sementara Prestone pada kemasan jumlahnya 473 ml untuk 60 liter, setelah diukur ada 480 ml. Waktu pengapian berhasil digeser menjadi 1,9 derajat di atas Pertamax Plus (17 derajat sebelum TMA). Terakhir Pennzoil, isi yang tercantum di botol 354 ml, setelah ditakar ternyata lebih 6 ml. Kenaikan waktu pengapiannya dari Pertamax Plus mencapai 1,8 derajat (jadi 16,9 derajat sebelum TMA).

KESIMPULAN
Secara umum, pencampuran Premium dengan kelima octane booster ini mampu membuat mesin tidak ngelitik. Bahkan lebih baik dari Pertamax Plus. Sekarang tinggal pintar-pintar memilih octane booster mana murah dan hasilnya melimpah. Paling enggak kalau dihitung-hitung jumlah pengeluaran masih lebih murah dibandingkan menggunakan
Pertamax Plus. Misalnya untuk 60 liter Premium harus keluar duit Rp 144.000. Ditambah menggunakan octane booster seharga Rp 35.000 menjadi total Rp 179.000. Bandingkan kalau membeli 60 liter Pertamax Plus, Rp 4.200 X 60 = Rp 252.000. Pastinya lebih murah yang pertama.

gimana guys.. buat motor kalian yg biasa minum pertamax…lumayan
neh bisa pake premium jadinya :)


Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here